Selasa, 14 Mei 2013

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Cerita tentang hantu sebagai makhluk halus menakutkan hamper selalu membuat anak-anak takut. Seorang anak yang lahir dari, dari keluarga miskin juga tidak luput dari ketakukan itu sampai akhirnya dia tidak jadi masuk sekolah taman kanak-kanak (TK) karena di sekolah itu selalu ada sejumlah suster dari Belanda yang berpakaian serba putih mirip hantu. Si bocah kecil ini pun urung masuk TK
MASA kecil penuh kecerian dilalui seperti anak pinggiran kota pada umumnya. Jika membuat pisau dari paku bersama teman-teman sebayanya, sengaja paku itu digilaskan ke roda baja kereta api yang sedang berjalan di rel di dekat rumah si anak ini. Adakalanya, pada saat akhir pecan, anak-anak singkong dari kawasan kemayoran ini bersepeda ramai-ramai ke kawasan Ancol dan jajan penganan murah buah lontar.
Beruntung, si anak ini mendapatkan ajaran agama yang sangat kuat dari sang nenek yang juga guru agama di SD Negeri Jalan Tepekong, Jakarta. Didikan nenek itu menjadi dasar dan panduan sepanjang hidupnya hingga sekarang. Meski demikian, demi dasar pendidikan kedispilinan, orang tuanya dengan penghasilan sangat terbatas rela mengorbankan apa pun agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan di sekolah swasta.
Ayahanda terlalu idealis, prinsip politiknya bertentangan dengan pemerintah, sehingga semua usaha, percetakan, koran, transportasi, dan lain-lain gulung tikar. Mereka sekeluarga hidup berpindah dan pernah tinggal di losmen berisikan delapan orang dalam satu kamar dengan kamar mandi terpisah, dan berakhir di salah satu kampung terkumuh di pojok Jakarta karena sudah tidaka ada uang lagi uang untuk membayar sewa losmen.
Di usia yang masih sangat belia, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, anak tersebut sudah mulai mengurus keperluan transportasi teman-temanya yang akan study tour. Namun, setelah semua diurus, anak yang sudah biasa hidup keras ini tidak bisa ikut piknik karena sama sekali tidak memiliki uang.
Kemudian dia tumbuh dewasa, lalu belajar tentang filosofi dan prinsip-prinsip hidup sekaligus merasakan bagaimana sulitnya mencari sumber penghidupan. Perjalanan selanjutnya bagaikan air mengalir. Si anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang matang. Bahkan, di usia muda, pada saat yang hamper bersamaan, dia mampu meraih tiga prestasi sekaligus, baik dari sisi akademis, organisasi kemasyarakatan, maupun usaha bisnisnya.
Anak singkong dari salah satu kampung kumuh di Jakarta itu kini menjelma menjadi salah satu tokoh cukup diperhitungkan di Indonesia. Dia adalah Chairul Tanjung